Entri Populer

Rabu, 04 Mei 2011

FUTURE ON MY HAND NOW!!!!

“kejarlah cita-citamu selagi umurmu masih muda”

Kawan...kalimat ini sederhana tapi punya makna yang sangat besar banget. Baru kmarin saat kuliah pengganti kinesiologi pada 2 mei 2011 di ruang MIPA FKUI tepatnya jam berapa kurang ingat, datang seorang dosen sekaligus dokter bagian rehabilitasi medik. Kesan pertama melihat sang pengajar, kearas, mungkin agak sedikit tegas, dan pasti super sibuk. Karena pas baru datang saja beliau sudah meladeni telepon yang masuk entah siapalah itu yang berada di seberang hubungan sana. Yang pasti membahas tentang dunia medik juga sih...(maaf dok, gak sengaja kedenger..^^)

Tapi ternyata kesan pertama belum tentu menunjukkan pribadi orang tersebut. Ketika kuliah dimulai dengan perkenalan sesaat dan introduction yang basi banget buat diulang apa lagi kalo bukan “kenapa kalian memilih jurusan ini??”. Haduh dok...itu mah pertanyaan yang ditanya pas awal-awal...tapi ternyata ada maksud dibalik pertanyaan itu. Tidak lain dan tidak bukan kalau dokter itu memastikan bakwa kita duduk di kuliah pada saat sekarang ini tidak hanya sekedar 4D, Datang, Duduk, Dengarkan, Diam. Tapi kita harus menghayati setiap materi yang akan disampaikan. Dan dari situlah sebuah motivasi baru muncul dalam diri ku, mungkin pada diri teman-teman yang lain. Pokoknya seru banget deh...^^

Selama kuliah berlangsung, beliau menjelaskan secara rinci, urut, dan terang. Meskipun pada saat itu terjadi kesalahan teknis. Slide materi yang seharusnya diberikan hari itu malah tidak ada. Dan akhirnya tanpa membuang waktu sang dokter atau pengajar menggunakan cara ceramah dalam menyampaikan materi kuliah saat itu. Tapi gak kayak kuliah-kuliah sebelumnya yang walaupun pake slide tetep aja tingkat kefokusan gue gak kurang dari setengah perjalanan materi diberikan. Namun kali ini meskipun tanpa slide tetep bisa fokus hingga kuliah berakhir.

Oke, kita skip bagian metode pemberian kuliah tanpa slide-nya si dokter. Kita lanjut ke judul awal...
Cerita punya cerita, ternyata si dokter ini dulunya bercita-cita ingin jadi sarjana ekonomi. Karena beliau ingin menolong orang lain yang kesusahan dengan ilmunya itu. Seperti yang dokter bilang pada awalnya dipikiran beliau saat itu yang bisa menolong kesusahan orang lain tolok ukurnya adalah uang. Dan dari situlah mengasa sang dokter muda dulu ingin menjadi sarjana ekonomi. Namun karena tuntutan dari orang tualah yang menjadikan impiannya itu mesti berubah 180o menjadi sornag dokter. Alhasil beliau menurut apa kata titah ibundanya. Sampailah pada titik akhir dimana selama menjalani kuliah untuk menjadi seorang dokter, beliau tidak terlalu menghayati. Hanya sekedar memenuhi standar kelulusan tanpa menghayati setiap materi yang diberikan. Alhasil, ketika koas berlangsung di semester akhir, timbullah keinginan dokter untuk menjadi sorang dokter yang bersungguh-sungguh menjalani tugasnya. Karena pada suatu kejadian yang mungkin menjadi titik balik sang dokter yang membuka mata hati dokter tersebut agar menjalani profesinya sekarnag dengan sungguh-sungguh, bukan karena paksaan atau tuntutan.

Alkisah, ketika sang dokter muda sedang menjalani masa koas sebagai dokter muda, datanglah seorang ibu yang membawa anaknya dengan diagnosa demamberdarah (maaaf, gue gak tau bahasa medisnya, tepatnya lupa..) stadium akhir, karena sudah keadaan mimisan. Si ibu meminta tolong pada dokter muda ini untuk menolong nyawa anaknya tersebut. Karena sang dokter dalam keadaan sedang koas, maka yang hanya bisa dia lakukan adalah mengecek sign vital si anak (karena memang itulah kerjaannya koa) dan mencatat setiap keadaan si pasien lalu menyerahkan catatan itu kepada dokter ahlinya. Singkat cerita, sianak berhasil tertolong nyawanya. Dan si ibu sangat-sangat berterima kasih kepada sang dokter muda ini karea telah menolong anaknya. Sang dokter muda berfikir, “jika ibu ini datang kepada dokter yang kerjanya asal-asalan, dalam tanda kutip gak profesional, gimana jadinya si anak ibu ini ya?”. Akhirnya muncullah tekad si dokter untuk berjanji akan menolong orang lain dengna profesinya sekarang secara profesional dan bersungguh-sungguh.

Intinya...si dokter sekarang menjalani hidup dengan tekad mengabdi pada masyarakat yang membutuhkan. Bagaimana dengan mimpinya ketika ingin menjadi seorang sarjana ekonom??. Cerita punya cerita si dokter sekarang meiliki perusahaan yang bergerak di bidak medis, dan beliaulah yang mengepalai perusaan tersebut. Dan sekarang...impian beliau dulu dan sekarang b erjalan beriringan. Yah karena itu tadi...tak pernah berhenti bermimpi, jika punya tekad yang kuat dan niat, serta berusaha lebih, maka semua itu akan tercapai dengan sendirinya.

Dan sekaran, semangan itu tertular kepada gue, yang menyimak dengna seksama setiap momen yang beliau ceritakan di sela-sela kuliah. Itulah yang membuat mimpi gue selama ini muncul kembali.
Kawan, tahukah kalian...sebetulnya gue sudah merasa cocok dengan jurusan yang gue ambil sekarang ini, namun ayah masih memiliki harapan ke gue dan memberikan suatu amanah ke gue untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih yaitu menjadi sorang dokter. Hummm....gue sih percaya aja akan hal itu, namun gue masih memikirkan soal biaya kedepanya. Berdasarkan fakta yang gue tahu, untuk menjadi sorang dokter itu butuh biaya yang gak sedikit kawan..selain itu butuh semangat yang gak luntur, serta harus mampu bersaing dengna orang-orang yang notabene mereka memang sudah biasa berkecimpung di dunia medis, dengna kata lain mereka dari keluarga cokter juga. Tapi gak menutup kemunginan juga yang gak dari keluarga dokter bisa ikutan disitu juga, tergantung kitanya juga sih..hehehe

Yah, itulah dia. Sekarang gue sedang menyusud main map gue yang baru, namun dengan 2 strategi berbeda. Jika strategi ke-1 gagal, maka gue melanjutkan yang ke-2. ....
Semangat buat semuanya...semoga impian dan harapan gue serta teman-teman yang membaca blog gue ini juga ketularan semangatnya.....oke ^-*
“MAN JADDA WA JADDA”*
*NEGERI 5 MENARA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar