Entri Populer

Rabu, 11 September 2013

Napak Tilas

Aku adalah makhluk yang berasal dari kumpulan sel yang nista dan kotor. kau tahu apakah itu??mungkin kalian yang belajar ilmu manusia mengetahui dari mana kita berasal. Aku tak perlu menjelaskan panjang lebar disini, memang ini bukanlah kuliah umum. Kalian mungkin akan dengan sendirinya tahu atau mencari, karena kita dianugerahkan seonggok organ yang bertugas dan memiliki fungsi luhur untuk mencari pengetahuan. Aku merupakan pemenang, karena berhasil mengalahkan calon saudara-saudaraku. Aku berhasil bertahan hingga sampai batas waktu yang telah ditakdirkan sang illahi kepadaku. Aku lupa proses yang terjadi saat aku terbentuk,dan aku lupa perjanjian apa yang telah aku jalani dengan penciptaku sewaktu aku berada di alam antah berantah, namun aku bisa melihatnya kembali dalam kitab-Nya. Tangisku pecah ketika aku tahu dimana sesungguhnya aku dikeluarkan. Inilah aku tubuh ringkih, pikiranku tak mengetahui sesiapapun, tak tahu harus berbuat apa. Aku buta, aku tuli, aku bisu, aku bodoh, aku bingung. Aku tak mengerti tujuanku...terus mencari, meraba untuk tujuan hidupku. Sampai tiba ketika sentuhan kasih itu dengan lembut membelai tubuh ini. Kecupan sayang yang tertoreh pada wajah ini. Seuntai rasa syukur yang terajut dalam tiap-tiap doa. Mereka, lelaki dan perempuan yang siap menjaga dan melindungi tubuh ringkih ini untuk tetap bertahan dalam alam nyata, alam dunia. Tak pernah sedikitpun mereka mengeluhkan apa yang menjadi mau ku. Mereka hanya ingin melihatku tetap tersenyum, walaupun harus berkorbankan tangisan dan rasa perih. Teramat sayangnya mereka pada tubuh ringkihku ini sampai mereka rela untuk berbuat apa saja agar aku tetap bertahan. Mereka mengajariku melihat, mereka mengajariku mendengar, mereka mengajariku berbicara dan mereka mengajariku bagaimana melangkahkan kaki-kaki ini untuk menapaki liku kehidupan. Tak lupa untaian doa terus terpanjat untuk setiap kebaikan kepadaku. Entah mengapa, mereka selalu terlihat bangga akan setiap hal kecil yang aku capai. Hingga aku akhirnya mengetahui apa tujuan dari kebaikan mereka. Ketika pikian ini sudah matang untuk mengetahui arti kehidupan yang sebenarnya, dan hati ini sudah dapat memilah mana yang benar dan buruk. Ternyata keinginan mereka sederhana, yaitu aku dapat mandiri dan menjadi seorang insan yang beriman dan berterimakasih kepada Tuhannya, hanya itu. Sangat mulia pengorbanan mereka terhadap diriku. Mereka merawat dengan kasih dan sayang serta peluh yang selalu terbuang tanpa Cuma-Cuma hanya untuk membuat aku mandiri dan menjadi insan yang beriman dan berterimakasih kepada Tuhannya. Ya tuhan...siapakah mereka sehingga mereka rela mengabdi kepada tuhannya dengan merawat tubuh ini hingga menjadi seseorang yang mandiri dan menjadi seorang insan yang beriman dan berterimakasih kepada tuhannya?? Waktu berputar bagai roda giling yang menderu. Tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga dan seterusnya. Tubuh ringkih ini terus dibina dan dirawat oleh mereka, lelaki dan perempuan istimewa. Keluh kesah terkadang muncul diantaranya, kesal dan jenuh tak pernah pupus dari setiap perjuangan mereka merawat tubuh ringkih ini. Selalu dan selalu, terus dan terus, mereka tak pernah berhenti untuk melanjutkan keinginan mereka keatas tubuh ini. Aku, makhluk yang buta dan penuh dengan kekurangan semakin menjadi makhluk yang kuat. Kuat untuk menghadapi dunia, kuat untuk menghadapi tantangan dan kuat menghadapi cobaan. Siapa lagi kalau bukan ilmu dari mereka yang telah diajarkannya padaku. Sehingga aku mengerti kemana harus melangkah, bagaimana aku harus berbuat, kepada siapa yang harus aku jadikan tempat mengadu atas tiap masalahku. Mereka, ya mereka lelaki dan wanita istimewa yang berjasa atas ilmu kehidupan. Aku terkadang jengah dengan apa yang mereka ajarkan dan berikan. Perhatian mereka terkadang menjadi suatu kekangan bagiku, sayang mereka terkadang menjadi hal kecil yang terkadang selalu ku abaikan, cinta mereka terkadang menjadi hal biasa saja hingga aku mencari cinta dari yang lain. Namun ketika aku terjatuh, merekalah yang pertama kali peduli atas apa yang menimpaku. Mereka begitu khawatir atas apa yang terjadi padaku. Segala cara dan upaya mereka lakukan demi mengembalikan senyuman ku, senyuman yang selalu ingin mereka lihat pada tubuh ringkih ini. Sedangan yang lain hanya melihat dari kejauhan. Teman, kawan, sahabat, bahkan lawan. Mereka hanya melihat dalam diam jika aku terjatuh. Tetap saja aku tidak melihat itu merupakan cinta sejati dan sayang yang abadi. Ku lawan mereka, kusakiti hati mereka, kuabaikan setiap apa yang mereka berikan. Seolah aku sudah siap dan kuat untuk menghadapi ganasnya dunia ini. Merekalah yang kembali merengkuhku ketika aku terjatuh dan tersungkur. Bodohnya diriku ini, mengapa selama ini aku tak melihat ketulusan mereka. Aku telah dibekali banyak oleh mereka, tapi tetap aku dibutakan oleh hal lain yang menyebabkan aku tak melihat kemurnian cinta mereka. Padahal lelaki dan wanita itu hanya mewujudkan mimpi yang sederhana, aku mandiri dan menjadi insan yang beriman dan berterimakasih kepada Tuhannya, itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang, namun mengapa aku bebal untuk itu. Oh betapa malangnya aku ini. Tuhan mengapa kau menciptakan aku yang begitu bebal. Namun mereka selalu dan selalu tidak hentinya mendoakan aku supaya aku kuat dan aku bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Meskipun harus berjuang bercucur keringat dan darah. Berkorbankan sakit dihati, tetapi maaf selalu terbuka untukku. Mereka berfikir aku ini masih harus terus dibimbing karena memang aku ini ringkih dan rapuh. Sehingga mereka maklum atas perlakuanku terhadap mereka. Inilah aku sekarang. Tidak, aku belum cukup kuat namun aku mampu untuk bertahan pada hal-hal tertentu yang masih bisa aku tolerir. Tetap saja aku masih tergantung pada mereka. 21 tahun mereka merawat dan mengasuh aku. Tubuh ringkih dan rapuh ini yang buta, tuli, bisu, dan bodoh. Dengan sabar mereka mengajariku untuk dapat melihat, mendengar, berbicara dan berfikir. Dengan sabar mereka menuntun aku untuk mengenal tujuan hidupku. Dengan sabar mereka menitah aku kepada Tuhanku. Dengan sabar mereka mengenalkan aku mengenai arti hidup yang sebenarnya. Dengan sabar mereka menyuapi aku dengan bersendok-sendok pelajaran tentang kehidupan. Dengan sabar mereka membesarkan aku untuk mencapai tujuan yang sangat sederahana, membuatku mandiri dan menjadi insan yang beriman dan berterimakasih kepada Tuhannya. Disinilah awal dari akhir perjuangan yang sesungguhnya. Berseragamkan baju kebesaran yang mungkin menjadi dambaan semua orang diluar sana. Kupersembahkan sedikit dari rasa terimakasihku atas semua jerih payah kalian. Meskipun menurutku belum sempurna balas budiku pada kalian. Ini baru pencapaian awal saja, masih banyak dan panjang lagi. Aku masih bergantung pada kalian, terutama doa kalian wahai lelaki dan wanita istimewa ku. Pencapaian akhir suatu pendidikan hidup dan awal dari perjuangan dalam hidup. Teruntuk untuk lelaki hebatku (Husaini) dan wanita perkasaku (Nuraini) Dari ananda tercinta Siti Musdalifa